Sudahkah Saya Bersyukur Hari Ini?

Berita tentang peperangan di atas dunia ini seolah tidak pernah ada habisnya. akhir-akhir ini bukannya berkurang, malah makin bertambah, khususnya di negara-negara timur. satu per satu dari negara tersebut mulai mendeklarasikan perang, entah perang saudara, perang melawan penjajah, maupun perang-perang lainnya. dan seperti biasa juga, selalu, korban paling besar dari sebuah peperangan yang useless itu adalah anak-anak. dalam salah satu tulisan di harian Kompas, selasa 14 maret 2017 menyebutkan dalam data unicef, terdapat 2,8 juta anak yang berada dalam kondisi kehidupan yang sangat rentan di Suriah. sementara 10 persen atau 280.000 anak di dalamnya kehilangan akses atas hak-hak dasar mereka yang berarti tidak punya rumah, tidak punya pakaian yang layak, sulit dalam mendapatkan makanan. dapatkah kamu membayangkannya?

saya membandingkan dengan hidup yang saya jalani sekarang ini : dapat makan ketika lapar, punya bantal dan selimut saat tidur, punya pakaian yang layak, dapat tidur dengan nyenyak tanpa khawatir apakah rumah saya akan hancur besok atau tidak, bisa menjalani keseharian dengan baik tanpa rasa takut, dapat berkomunikasi dengan baik dengan orang-orang di sekitar saya, bebas untuk melakukan apa yang saya kira baik untuk diri saya serta bebas juga memakai jilbab tanpa takut akan dibunuh atau yang lainnya. dengan kehidupan yang begini saya masih bisa juga mengeluh. keluhan yang jika saya ingat lagi sangat memalukan jika dibandingkan dengan 'keluhan' pengungsi suriah saat ini.
Mereka, jelas lebih kuat dari saya.Mereka yang sangat paham akan arti kehidupan, bahwa hidup bukan hanya galau karena lelaki yang mereka sukai tidak menyadari perasaan mereka, sedih karena jerawat yang tidak kunjung hilang, atau panik hanya karena segores luka di tangan. hidup adalah lebih dari yang saya pikirkan, dan saya harus bersyukur bagaimana pun hidup saya sekarang ini. karena syukur membuat bahagia diri saya, syukur membuat saya tidak pernah merasa kekurangan, dan syukur juga menjadikan kekurangan saya sebagai keistimewaan, sebagai pelengkap bahwa diri saya ada dengan kelebihan dan kekurangannya.

walaupun mereka saya jadikan bandingan atas diri saya, tetapi tetap tidak ada yang berada di bawah siapa. kondisi mereka mungkin lebih buruk, tapi jelas mereka di atas saya dalam semua hal. Ibarat dalam sebuah game, mereka telah berada di level 57 sementara saya yang sekarang masih di level 10. masih bawah, masih jauh dari kata menang. saya masih harus berjuang lagi, dengan cara saya sendiri. untuk memahami makna syukur yang sebenarnya.

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (28:73)