Daily Life Project 1 : Kita Tidak Hidup di Ruang Hampa

Seminar yang aku ikuti hari ini sebenarnya mendadak banget. waktu lagi kelas tiba-tiba ada pesan masuk dari Line "ada yang bisa ikut seminar ga?" dan aku langsung bilang aja aku mau, nanya-nanya dan selesai kelas aku langsung naik ojek ke rektorat buat ngehadirin seminarnya. kondisinya aku dateng telat, acara mulai jam 08.00 dan aku datengnya jam 09.30 dan Putra Nababannya udah ngomong. sebenarnya aku tertarik dateng seminar ini karena temanya sih, yang berhubungan sama media. berhubung aku sangat tertarik dengan segala isu tentang media, jadi aja deh aku duduk disana. dan memang ternyata ga nyesel. 

Ketika dateng dan baru berapa detik duduk di bangku peserta, langsung kerasa banget powerfull talknya Putra Nababan. Aku yang lagi duduk itu ya langsung ngerasa karisma dan semangat dari beliau itu menyebar ke seluruh sudut ruangan. nah, dalam hati aku ngomong "yang begini ini nih tipe seminar yang aku cari" dan aku langsung negakkin badan dan dengerin dengan seksama yang beliau omongin di depan. dan memang benar, seorang wartawan senior itu cara bicaranya selalu bikin ngiri dan aku sampai berpikir kalau setiap kalimat yang keluar dari beliau itu bisa dijadiin Quotes menarik yang orang-orang bakal semangat kalau baca kalimat itu.

Jadi, hal pertama yang aku dengar dari beliau adalah beliau bicara tentang ketakutan terbesar karyawan itu bukannya orang-orang yang nelponin beliau tiap malam untuk memastikan berita apa yang keluar besok pagi atau penguasa dari media yang dia kerja di dalamnya. hal yang paling ditakuti beliau dan semua wartawan sebenarnya adalah : Ditinggal Pemirsa. itu bukan sekedar ketakutan tentang tidak mendapat gaji walaupun itu salah satunya. namun yang terpenting adalah, ketika penonton mengganti channelnya, maka idealisme mereka tidak tersampaikan, ideologi dan pemikiran-pemikiran mereka tidak akan terdengar oleh masyarakat. 

yang kedua, beliau membicarakan soal berita-berita tidak kredibel yang banyak muncul di internet. ada satu pertanyaan yang menurutku maknanya dalam dan ngena banget "siap kontrol berita yang masuk ke pikiran kalian tidak?", lalu beliau melanjutkan kalau sebagian besar orang ternyata belum siap benar untuk menerima bombardir informasi yang sampai ke mereka.

kemudian beliau mengatakan kalau apabila kita mempunyai sebuah instagram, itu artinya kita telah memiliki sebuah media sendiri. itu juga berarti bahwa kita menjadi pemimpin redaksi dari media tersebut, kita juga menjadi kru dari media itu. beda kompas TV dengan instagram yang kita miliki hanyalah bahwa kompas tv memiliki kru khusus untuk mengelola media mereka sementara instagram kita, baik kru maupun pemimpin redaksinya adalah diri kita sendiri. jadi, itu ada di tangan kita apakah kita ingin membagikan sesuatu yang bermanfaat dan mengedukasi untuk pemirsa (followers) kita, ataupun kita hanya ingin menunjukkan sesuatu yang biasa-biasa saja. kalau terdapat pilihan seperti itu,kenapa kita tidak coba untuk menghasilkan suatu hal yang bermanfaat yang dibagikan di media sosial kita ini?

Lalu untuk masalah media yang disetir oleh pihak tertentu, beliau mengatakan bahwa jelas segala sesuatu di dunia ini pasti telah ada arahnya, termasuk juga media. media selalu mengadakan rapat redaksi terlebih dahulu sebelum memberitakan sesuatu. dan di dalam redaksi tersebut angle yang coba seorang wartawan angkat tersebut memang akan di kritik dan diserang habis-habisan oleh rekannya yang lain sampai menghasilkan tulisan yang benar-benar bagus dan terarah. Jadi jels saja bahwa media memang disetir dan diarahkan.

ada satu kalimat menarik dari beliau yang aku ingat sampai sekarang, beliau mengatakan "Kita tidak hidup di ruang hampa yang semuanya ideal. Saat di kampus mungkin kamu mendapatkan beberapa ruang kosong yang dapat kamu isi dengan idealisme-idealisme versimu dan masih dapat diperjuangkan. tetapi, ketika kamu keluar kampus, maka semua ruang hampa tersebut harus terisi penuh, tidak ada lagi ruang hampa. jadi, manfaatkanlah ruang hampa itu dengan baik, saat di kampus"

Kata-kata di penghjung cerita beliau yang membuat aku akhirnya terinspirasi dan mulai mencoba menulis ini adalah, Media itu sebenarnya adalah salah satu cara berbagi kebaikan. kamu boleh aja jadi orang baik, tapi kalau kamu tidak membagi, menyebar semangat kebaikan kamu itu ke orang-orang, maka kebaikan tersebut hanya akan berhenti di kamu. Kamu harus menunjukkan kalau berbuat baik itu ada manfaatnya, ada impactnya ke diri kamu sendiri, bukan saja hanya kepada orang lain. jadi, Semangat membawa kebaikan digital teman!

Setelah Putra Nababan pergi, dilanjutkan oleh sesi berikutnya yang diisi oleh Abie Besman, Tsamara Amany, dan Arman Dani, redaktur esai di mojok.co. 

Saat bagian Abie Besman hal yang aku ingat dan kemudian aku catat adalah kata-katanya mengenai Media sosial, bahwa kita sering menganggap Media Sosial seperti Facebook dan Twitter adalah sebuah Media massa. mungkin media-media tersebut bisa jadi Media massa jika kalian menggunakan nama yang merupakan suatu perusahaan atau organisasi atau semacamnya yang kemudian kalian menjadi penulis di dalamnya, namun apabila kalian menggunakan akun pribadi kalian untuk dijadikan media massa, maka itu berarti kalian telah memperbesar ruang pribadi kalian, kalian telah mengizinkan orang-orang untuk melihat kamar kalian, bagaimana bentuknya, isinya, apa saja yang kalian lakukan disana. selanjutnya juga dikatakan oleh beliau bahwa, saat kalian mendapatkan sesuatu hal itu gratis, berarti produknya adalah diri kalian sendiri. sama seperti Facebook, Line, dan lain-lain yang sekilas tampak seperti jenis produk padahal produk sebenarnya adalah para pelanggan itu sendiri. 

sebenarnya masih banyak lagi hal-hal baik yang mereka sampaikan, oleh karena itu postingan ini akan aku bagi jadi dua postingan. semoga postingan kali ini bermanfaat ya :) tunggu postingan selanjutnya!